#TulisanKekasih

Menjelang pernikahan itu pasti banyak rintangan dan cobaannya.

Aku pikir kalimat itu hanya terjadi pada pasangan-pasangan yang tidak memiliki keyakinan. Karena aku merasa sangat yakin bisa menjalankan semua prosesnya. Tapi ternyata salah. Rintangan itu selalu ada, bahkan semakin dekat semakin besar dan membuatku hampir menyerah.

Terdengar klise memang, cemburu karena rasa sayang dan khawatir kehilangan itu yang selalu menjadi alasan. Lelah memang, tapi entah kenapa selalu saja tidak bisa melawan. Beberapa kali merasa tidak sanggup mempertahankan hubungan ini, inginnya menyerah saja, tapi dia juga beberapa kali mengajak untuk terus berjuang bersama.

Agar lebih jelas, biar kuceritakan saja. Selumbari, jarak tiga bulan sebelum pernikahan, ada satu trouble yang membuatku ingin mundur. Kami satu tempat kerja, isinya ada lima orang perempuan dan tiga orang laki-laki –termasuk kami. Semua rekan memang sudah menikah, seharusnya aku bisa lebih santai dan tidak perlu merasa khawatir. Jujur, aku memang tidak punya masalah dengan semua rekan perempuan, bahkan mereka sudah kuanggap sebagai kakak. Yang jadi masalah adalah perlakuan pasanganku ini yang sering bercanda, baik dengan laki-laki atau pun perempuan. Dulu, sebelum kami memutuskan memiliki hubungan, dia juga memperlakukanku sama seperti yang lain. Mengajak bicara, mengajak bercanda tanpa canggung. Tapi, setelah memiliki hubungan, dia justru berbeda. Entah karena malu atau merasa canggung, di depan yang lain dia justru seperti menghindar dan selalu cepat-cepat menyelesaikan obrolan. Bercanda? hanya terjadi jika tidak ada yang lain. 

Kadang aku berpikir, apa mungkin karena kami akan menikah, jadi dia tidak terlalu menghiraukan, toh sudah ada rencana menikah, jadi sudah pasti tidak akan berpaling. Sayangnya, itu tidak berlaku untukku. Untuk perasaan, aku lebih mementingkan kebahagiaan perasaanku dibanding kerugian yang akan didapat, sebab sudah booking vendor sana sini.

Kemarin, adalah puncaknya kekesalan yang sudah aku tahan. Aku mengaku kecewa atas sikapnya yang tidak berubah, meskipun pernah beberapa kali kuingatkan untuk berhenti bersikap demikian. Dia juga tidak pernah berusaha me-reach out jika ada sesuatu hal yang membuat aku menghindar. Juga tidak pernah mengatakan “maaf” dengan spontan. Alasannya dia selalu menunggu untuk bertemu

Padahal bagiku, kata “maaf” bisa menenangkan hati dan pikiran yang berkecamuk. Sedih? Tentu saja. Marah? Sudah pasti. Kecewa? Apa lagi. Air mata selalu saja meluncur meski diseka beberapa kali. 

Dia pilihanku. Aku yang memilihnya, seharusnya memang aku menerimanya. Tapi, sulit bagiku untuk tidak merasa menyesal telah mengambil keputusan untuk bersamanya. Sebaliknya, setelah kami berbaikan, pikiran kesedihan tadi tiba-tiba hilang, atau lebih tepatnya bersembunyi. Mungkin saja akan atau tidak akan keluar lagi.

Sayang, aku hanya ingin diperlakukan secara hormat. Hargai aku sebagai pasanganmu. Jika aku merajuk, tanya saja apa penyebabnya. Jika aku menghindar, coba dekati saja. Jika aku menolak, tarik saja ke dalam dekapanmu, usap kepalaku, dan katakan “maaf, aku membuatmu begini, aku janji tidak akan terulang lagi.”



Catatan dari kekasihmu yang masih mendoakan kebaikanmu.

Kuharap kamu mengerti.



Komentar

Postingan Populer