#TulisanKekasih

 Terkadang aku lupa, jika mencintai juga perlu energi. Seringnya mencintai juga menguras emosi. Bisa jadi pilu, bisa jadi haru bahagia.

Pernah beberapa kali aku berpikir, bisakah aku mencintai orang lain? Ego ku saja kadang belum bisa kukendalikan. Dampaknya, mencintai juga seperti menyakiti. 

Takut, khawatir, cemas jika saja perasaanya tidak seperti dulu. Kadang aku merasa diabaikan, merasa tidak dihiraukan, mungkin juga kadang rasa sayangku salah ditafsirkan.

Merajuk takut dikatai kekanakan, melarang takut dikatai mengekang, cemburu takut dikatai berlebihan. Kadang, ehm maksudku seringnya, perasaan itu kurasakan sendiri, kulalap habis sendiri, kutelan sendiri, dan pastinya menangis sendiri. Karena dalihnya berkata bahwa itu hanya prasangka. Entah benar atau tidak.

Omong-omong, memangnya mencintai bisa membedakan benar atau tidak? Menurutku sepertinya, benar atau tidak itu bergantung pada cara pandang kita. Subjektif, ya.


Ah iya, sebetulnya aku ahli dalam menasihati teman tentang mencintai. "Jangan berlebihan, mengalir saja, ingat, semuanya bukan milik kita". Bahkan aku sering mengambil potongan kalimat dalam buku yang pernah kubaca. "Kita tidak bisa mengendalikan perasaan orang lain, yang bisa kita kendalikan hanyalah perasaan kita sendiri."

Wow .. sangat meyakinkan. Tapi ternyata, aku sendiri sulit sekali melakukannya. Entah karena aku begitu mencintainya, atau karena aku lupa pernah membacanya dan sepertinya perlu dibaca ulang. (opsi kedua kuharap paling valid)

Memang sulit bahkan tidak mungkin kita bisa mengendalikan perasaan orang lain. Seharusnya memang kita sendiri yang mengurangi ekspektasi. 

Tapi, sepertinya tidak salah juga kan kita berharap? Berharap agar rasa sayang kita ditafsirkan sebagai sesuatu yang baik. Misalnya aku ingin jika sifat merajuk, melarang, dan cemburuku ditafsirkan sebagai bentuk perasaan cinta, kasih sayang, dan tidak ingin kehilangan. 

Ah, tapi kembali lagi seperti tadi, perasaan orang lain di luar kendali kita, dan kita tidak perlu berlebihan dalam mencintainya, mengalir saja, toh ia juga sebatas titipan. Oke, berarti mulai detik ini aku harus menurunkan ekspektasi dan belajar ikhlas, jika rasa sayangku tidak ditafsirkan seharusnya.



catatan malam.

Komentar

Postingan Populer