Berkarir

 Tulisan ini aku persembahkan untuk diriku yang benar-benar sudah menjelma menjadi diri yang kuat.


Diawali dengan kelulusan yang menegangkan untuk bisa meraih gelar sarjana, sekarang diri ini telah berdiri menghadap puluhan anak yang kusebut murid. Ya, sekarang aku sudah mengajar menjadi guru bantu di sekolah tempat aku menimba ilmu dulu, alias mantan alumni di sana. 

Karir pertamaku sebetulnya dimulai dari lulus SMA, sambil menunggu pengumuman kuliah, aku bekerja sebagai SPG di salah satu butik di kotaku. Begitu masuk kuliah, pernah beberapa kali mencoba meniti karir lagi untuk berjualan seperti kebanyakan mahasiswa, tapi mungkin Allah sudah menggariskan rezeki setiap orang berbeda. Karena, tiap kali berniaga, daganganku jarang sekali laku. mungkin memang tidak berbakat menggait pembeli, hehehe. Akhirnya, karena alhamdulillah aku berkesempatan mendapatkan beasiswa, aku tidak lagi terpikir untuk berkarir sebagai pedagang, dan lebih fokus untuk urusan akademik.

Aku memang lebih tertarik pada urusan seputar keilmuan, dibandingkan dengan perdagangan. Tapi, ada kalanya dengan berdagang bisa menghasilkan keuntungan lebih cepat, alias berpenghasilan. Nah, karena fokus akademik dan tertarik pada bidang Bahasa, aku pun mengikuti salah satu organisasi di kampus yang kebetulan ketuanya waktu itu adalah dosen pembimbingku. 

Kedekatan dengan kakak tingkat yang kemudian memperkenalkan aku kepada beliau -dosen pembimbing sekaligus ketua- membuat aku diajak menjadi bagian dari semua pekerjaan akademiknya (sudah diceritakan di tulisan lain). Sampai akhirya aku bekerja dengan beliau sebagai -ehm apa ya namanya, Asisten Dosen (?)- intinya sering dipekerjakan untuk membantu urusan akademik.

Sebetulnya pekerjaannya tidak begitu sulit, tapi kadang yang membuat malasnya itu waktu beliau meminta mengerjakan sesuatu yang double, bahkan triple, atau bahkan multiple, hehehe. Alias, pekerjaan satu belum selesai, ada lagi pekerjaan lain, dan itu cukup menyita waktu. sedangkan aku bukan tipe orang yang seperti itu, aku harus bekerja dengan waktu dan prosedur (seperti tahap kegiatan) yang sudah ditentukan. 

Rasanya ingin sekali lepas dari pekerjaan tersebut, tapi kebutuhan finansial apalagi gaji sebagai guru honorer tidaklah besar. Maka, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus bisa menerima pekerjaan yg diberikan.

Dan sekarang, yang harus aku ingat adalah setiap pekerjaan yang diterima merupakan jejak karir yang suatu saat akan bermanfaat, minimal untuk diriku sendiri. Aku juga harus bersyukur atas gaji yang diberikan, selama itu halal. Apalagi ketika kita bersyukur, Allah akan menambah lagi rezeki kita, bukan? 

Ya, percayalah, Allah pasti akan membuka jalan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.


Salam hangat, dari hari Jumat yang sedikit mendung.

Komentar

Postingan Populer