Broke 🌧
Siang hari setelah selesai bertugas, aku dan dia memutuskan ke luar, sekadar untuk refreshing, ke tempat makan baru yang aestetik. dia memotret diriku dengan ponselnya, mengirimkannya ke ponsel milikku. lewat foto itu, aku tahu, akan ada kenangan indah yang bisa terselip dalam hipokampusku, dan akan kukenang selamanya.
Kupikir semua akan berjalan sesuai harapan.
Tapi ternyata tidak.
Malamnya, yang kupikir dia akan menjadi yang terakhir, justru malah memberi luka paling dalam. Kenapa kusebut begini? Karena didorong terjun dari angkasa lalu jatuh ke inti bumi itu sangat menyakitkan. Mungkin sudah remuk, sudah tidak utuh, sudah tak bernyawa.
Dulu aku pernah mengalami hal yang serupa, tapi bedanya, saat itu terjadi, aku memang sudah mulai merasa lelah. Bodohnya, aku menerimanya kembali dengan memberi kesempatan kedua. Namun, dikhianati lagi.
Aku pernah bercerita kepadanya, seingatku dia juga pernah mengalami hal itu. Bahkan lebih parah.
Tapi kenapa? Kenapa seolah dia menjilat ludahnya sendiri.
Lelucon apa yang dibuatnya sehingga meninggalkan bekas luka teramat pedih? Bukan sebuah tawa yang biasa dia lontarkan saat sedang bersamaku.
Entah aku bodoh, atau belum bisa menerima kenyataan. Tetapi saat ini, aku masih merindukannya. Aku masih ingin menyapanya, aku masih ingin melihatnya, mendengarnya berbica dari A sampai Z meskipun terkadang sampai aku mengantuk, masih ingin mencium aroma tubuhnya, masih ingin memegang tangannya.
Tuhan, aku hanya berharap, aku kuat dan sehat. Dia pun sama.
Aku harap bisa keluar dari perasaan tersiksa, dia pun sama. Meski aku tak yakin dia mengalaminya.
Aku harap bisa menemukan sosok paling setia dan tulus tanpa mencari lagi setelah mendapatkan, dan dia pun sama.
Semoga lekas pulih.
Komentar
Posting Komentar