Merawat Bahagia
Tuhan, bolehkah aku berdiskusi tentang sesuatu? bolehkah aku menawar? bisakah aku kembali ke masa dulu, saat aku gadis? Jujur, sepertinya aku belum mampu menjadi istri yang baik. Aku mungkin masih egois, masih ingin lebih diperhatikan daripada memerhatikan sekitarku.
Pasanganku bukan orang yang buruk, dia orang yang baik, bahkan sangat baik, kurasa. Namun, ketulusannya sering kupertanyakan. Entah mungkin ekspektasiku yang terlalu berlebihan, atau karena memang sengaja membiarkanku kesepian.
Aku sering merasa sendirian, tak bisa bercerita kepada siapapun. Meskipun sering kali bertemu hari-hari yang rasanya tidak bahagia. Ingin sekali kuceritakan. Aku ingin bercerita lepas, bahwa aku lelah, aku tidak merasa ada kedamaian dalam diriku setelah menikah. Tapi, kepada siapa? Tidak mungkin aku harus bercerita kepada orang tua ku, mereka mungkin sangat memahamiku, dan aku juga sangat paham betul, jika aku bercerita keluh kesah kepadanya, aku justru malah menambah beban pikirannya. Dahi yang berkerut itu pasti semakin berkerut. Aku tak akan tega melihatnya.
Kadang-kadang aku penasaran dengan kehidupan setelah pernikahan itu bagaimana? Sesekali aku ingin bertanya kepada teman-temanku yang juga sudah menikah. Tapi, belum juga bercerita, aku sudah khawatir jika aku akan lebih sedih lagi, takutnya aku malah makin tidak bersyukur, dan Tuhan akan mengambil nikmatku lagi.
Pernah saat itu, aku bertanya tentang USG kehamilan kepada salah satu teman, ia bercerita, suaminya sangat proaktif tentang kehamilan, sebelum pergi ke dokter, suaminya selalu mencari tahu apa saja yang perlu ditanyakan, di minggu ke berapa harus mengecek apa, dan harus bagaimana jika terjadi keluhan. Ya Tuhan, membaca itu membuatku merenung, rasanya aku belum pernah sama sekali mengalaminya, mau kontrol pun, selalu aku yang mengajaknya. Kau tau apa yang kubalas? tidak sedikit pun aku berniat menjelekkan suamiku, aku selalu berusaha membuat persepsi orang terhadapnya terlihat baik. Ya, dia memang baik, seperti yang kubilang di awal, dia bukan orang yang buruk.
Lantas, aku harus bercerita kepada siapa, Tuhan? Kau tidak seperti makhluk dan tidak akan pernah sama. Katanya, jika sedih, berceritalah saja kepada Tuhan. Tapi, kadang aku ingin dipeluk, diusap, dan dijawab ketika aku bercerita. Siapa yang bisa melakukan itu? makhluk-Mu, bukan? makhluk yang saat ini kau kirimkan untukku sebagai pasanganku di dunia. Tetapi,,, dia tidak peka. Bertanya apa ada keluhan selama kehamilanku saja dia tidak pernah. Apalagi bertanya tentang perasaanku yang tidak terlihat ini. Mana mungkin bisa peka.
Aku ingin mengajak-Mu diskusi, Tuhan. Bisakah Kau perlihatkan jalan apa yang sebenarnya kujalani? Sudah benarkah aku melalui jalan ini? Jalan sebagai istri dan juga calon ibu dari makhluk kecil yang saat ini berada di rahimku. Ah, tidak Tuhan, aku tidak pernah menyesali kehamilanku, tapi jujur aku pernah menyesal telah menikah. Ada perasaan sakit hati, jika aku mengingatnya.
Di satu sisi, aku bersyukur dengan kehamilan ini, tapi aku juga kasihan kepada jabang bayi ku, ia sering kuajak menangis. Semoga saja dia terlahir bahagia.
Ya Tuhan, jika aku berada di jalan yang salah, tolong bimbing aku untuk segera menemukan jalan yang tepat. Namun, jika ini memang jalan yang tepat, aku hanya ingin meminta kepada-Mu berikan aku keberkahan dan kebahagiaan untuk menjalani keseharianku.
Semoga amal ibadahku tidak kurang, ya Tuhan. Sehingga jika Engkau memintaku pulang, aku sudah tidak perlu dihisab lagi. Tapi, aku mohon Kau jangan pernah biarkan anakku merasakan hal pahit di hidupnya. Biarkan dia mempelajari ini sesaat saja di dalam kandungan.
Meskipun aku tahu jenis kelamin anakku, tapi aku tetap ingin berpesan:
Jika kau laki-laki: jadilah manusia yang bertanggung jawab penuh, terutama jika kau menikah, jadilah suami yang bisa menjadi panutan bagi istri dan anakmu, hargailah keberadaan mereka di hidupmu, jadilah laki-laki mapan yang mampu membahagiakan keluargamu, jangan biarkan istri dan anakmu sedih, jangan biarkan mereka mengemis kasih sayangmu, berikan mereka cinta yang tulus dari dasar hatimu, semoga kau dipertemukan dengan perempuan yang juga tulus mencintaimu.
Jika kau perempuan: jadilah manusia yang bertanggung jawab penuh atas dirimu, terutama jika kau menikah, jadilah istri dan ibu yang baik, kau boleh sesekali menangis, tapi jika mereka tidak menghargai keberadaanmu, kau tidak boleh mengemis kasih sayang, jadilah perempuan yang mandiri, tinggalkan segala hal yang merusak dirimu, berpendidikan dan berpenghasilanlah, agar ketika kau menjauhi mereka, kau masih tetap hidup, semoga kau dipertemukan dengan laki-laki yang tulus.
Tulisan ini, aku buat dengan kesadaran penuh. Ucapan-ucapan yang baik semoga menjadi doa. Semoga kewarasan tetap ada dalam diriku. Semoga aku kuat dan tetap waras.
Oh iya, Tuhan, aku benar-benar ingin mengajak-Mu diskusi, bisakah malam ini?
Komentar
Posting Komentar