Mengelola Stres

Sepertinya usia 20 memang menjadi usia awal dari kedewasaan seorang manusia. Terlihat dari banyaknya artikel yang menyatakan bahwa usia 20 biasanya banyak dipenuhi oleh tekanan dan bayangan masa depan. Bukan hanya memikirkan tentang keberlangsungan hidup manusia, tapi juga memikirkan tentang keberlangsungan hidup dirinya sendiri.

Mei tahun depan, usiaku akan genap 22 tahun. Banyak orang bilang “quarter life crisis” akan terjadi pada orang dewasa yang berusia 20-25. Seperti krisis emosional yang melibatkan perasaan kesedihan, terisolasi, ketidakcukupan, keraguan terhadap diri sendiri, kecemasan, merasa tidak termotivasi, kebingungan, dan ketakutan akan kegagalan.

Tapi sejujurnya, di usiaku kini yang masih 21 pun rasanya aku sudah ‘menikmati’ bagian dari QLC itu.

Selalu dihadapkan pada pilihan yang tidak bisa aku tolak dan selalu mengiyakan. Entah kenapa, tapi rasanya sulit untuk menolak meskipun terkadang datang stres yang membuatku down sampai bisa menangis sesenggukan.

Bukan karena lebay atau putus asa.

Tapi karena aku belum siap untuk menghadapi semua tugas berat yang harus aku selesaikan.

Kalau stres datang melanda, rasanya gaada yang harus aku katakan selain diam.

Orang lain yang lagi ngobrol tuh kedengaran berisik, meskipun jaraknya berjauhan.

Apalagi kalau ada tetangga yang membunyikan motor dengan knalpot bising-yang aku sebut knalpot stegosaurus-pasti langsung marah-marah sambil bilang “kenapa sih orang-orang hidupnya senang berisik?”

Padahal kalau kondisi pikiran aku lagi baik dan suasana hati lagi senang juga kadang aku bisa nyanyi-nyanyi sampai teriak.

Tapi ya, namanya juga hidup. Kadang senang, kadang stres.

Biasanya aku ga pernah ngelakuin apapun, termasuk ngerjain tugas. Meskipun banyak yang harus aku kerjakan. Karena aku berpikir kalau lagi stres itu jangan dipaksakan buat ngerjain sesuatu, dan hasilnya pun ga akan bener.

Sama kaya kita lagi ngantuk tapi harus tetap terjaga buat ngerjain sesuatu. Udah pasti ga akan beres. Hahaha jadi keinget pengalaman bikin makalah LKM jam 3 pagi, mana ditulis tangan, ah udah deh tulisan jadi absurd ga jelas lagi nulis apa. Kacau banget.

Balik lagi sama stres, sebetulnya stres itu datangnya dari diri kita sendiri yang ga mampu buat mengelolanya, kadang dari kebanyakan mikir alias overthinking juga imbasnya bisa jadi kena stres loh.

Sampai sekarang pun aku belum nemu cara yang efektif buat ngilangin stres, tapi sejauh ini aku selalu lakuin ritual offdata. Maksudnya matiin data seluler terus drakoran (red: nonton drama korea) deh. Biasanya bisa sampe 4 jam tiduran sambil nonton drakor. Dan bodo amat sama semua chatting yang masuk. Nanti aku bales kalo udah kumpul nyawanya.

Ya meskipun kalo udah online......stres lagi.

But, semoga secepatnya bisa selesai ya, Wit.

Semangat juga buat semua orang yang berada di usia awal 20-an dan juga yang sedang mengalami QLC, mari yakinkan diri bahwa semua akan segera berlalu.


Love.❤

Komentar

Postingan Populer